Nabi dan Kitabnya

Sumber foto: Canva.com

Oleh: RD. Antonius Suhermanto

              Ketika berkontak dengan temannya yang sedang mendapat tugas studi lanjut di negeri orang, Rm. Itheng tahu kalau di awal semester temannya itu menjalani kuliah cukup padat. Hampir dua minggu ia kuliah dari pagi sampai malam karena ada dua mata kuliah intensif, demikian sebutannya. Dua mata kuliah dikebut supaya selesai lebih cepat. Satu dari dua mata kuliah tersebut berjudul: “Nabi-nabi sebagai Perantara Perjanjian”. Mendengar pengalaman temannya tersebut Rm. Itheng mencoba-coba mengingat masa kuliahnya dulu sebagai calon imam. Kalau tidak salah ingat ia mendapat dua mata kuliah tentang nabi-nabi.

              Dalam Kitab Suci bahasa Ibrani ada beberapa kata untuk menyebut seorang nabi. Satu kata yang dekat dengan bahasa kita dan yang paling sering digunakan adalah navi’ (sebagai info dalam bahasa Ibrani v dan b adalah huruf yang sama; diucapkan v kalau tidak pakai dagesh [tanda titik di tengahnya]). Mungkin kata yang kita miliki dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab (guru bahasa Indonesia yang bisa jawab … hehe). Kita tahu banyak kata dalam bahasa kita merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang memang dekat dengan bahasa Ibrani.

Menurut salah satu sumber, dalam bahasa Ibrani navi ini memiliki akar kata yang berarti mengalir seperti mata air. Karenanya kata navi’ bisa dimaknai sebagai memberi keterangan, mengabarkan. Dalam terjemahan bahasa Yunani untuk menyebut kata-kata yang merujuk pada sosok seorang nabi digunakan kata prophêtês. Kata ini merupakan bentukkan dari kata kerja phêmi yang berarti bericara atau menjelaskan dan mendapat awalan pro- yang berarti sebelum atau di depan. Dengan demikian kata prophêtês bisa bermakna juru bicara.

              Dari ulasan singkat bahasa Ibrani dan Yunani kita bisa mendapat gambaran awal tentang siapa nabi. Seorang nabi bertugas memberi keterangan, mengabarkan, menyampaikan warta. Ia adalah seorang juru bicara. Sebagai seorang jubir ia tidak menyampaikan kata-katanya sendiri. Bisa kita bandingkan dengan jubir presiden, misalnya. Walaupun menggunakan kata-katanya sendiri yang disampaikan oleh jubir presiden adalah mewakili presiden sendiri. Lalu sebagai jubir, seorang nabi membawa kata-kata siapa? Jawabannya jelas dong. Nabi menjadi jubir Allah. Nabi adalah penyambung lidah Allah.

Menjadi nabi bukanlah profesi pilihan manusia. Seorang nabi tidak menentukan diri sebagai nabi. Ia dipilih oleh Allah. Tentang ini mari kita lihat apa yang dikatakan nabi Amos, “Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel (Am 6:5). Atau bisa kita melihat pilihan Allah atas Nabi Yeremia. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yer 1:5).

Sebagai orang pilihan Allah seorang nabi harus taat pada kehendak Allah. Seorang nabi tidak boleh mewartakan dirinya sendiri. Ia hanya mewartakan apa yang menjadi kehendak Allah. Ia adalah pembawa kehendak Allah yang harus didengarkan bangsa Israel. (bdk. Ul 18:15-20).

              Bisa kita katakan bahwa seorang nabi bertugas sebagai penjaga relasi perjanjian antara Allah dan bangsa Israel. Tuhan adalah Allah Israel dan Israel adalah milik-Nya. “Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku” (Im 26:12). Antara Allah dan bangsa Israel terdapat relasi kasih (untuk menerjemahkan kata Ibrani khesed, walaupun tidak sungguh lengkap untuk mengungkapkan kandungan makna kata Ibrani ini). Allah mengasihi umat-Nya. Sebagai umat, bangsa Israel harus membalas kasih Allah dengan berlaku pantas sebagai umat pilihan. Dalam relasi ini, para nabi bertugas untuk menjaga bangsa Israel berlaku sesuai dengan perjanjian tersebut. Nabi menyampaikan kehendak Allah bagi umat-Nya agar mereka berlaku sesuai sebagai umat Allah.

Kita bisa mengatakan bahwa pesan yang dibawa para nabi mencakup hal-hal masa lalu, masa kini (masa di mana mereka hidup), masa depan. Para nabi mengingatkan bangsa Israel akan karya dan penyertaan Allah pada bangsa Israel dan mengingatkan mereka untuk senantiasa bertindak sesuai dengan panggilan mereka sebagai umat pilihan Allah. Karena itu berhadapan dengan kepincangan kehidupan keagamaan, sosial-ekonomi, dan politik para nabi menyuarakan pertobatan. Mereka mengundang bangsa Israel bertobat dari kejahatan atau ketidaksetiaan mereka. Untuk masa depan mereka tidak hanya mewartakan hukuman atas ketidaksetiaan karena bangsa Israel tidak mau bertobat, tetapi juga membawa warta keselamatan, pengharapan akan datangnya penyelamat. Melalui para nabi, Allah menjanjikan seorang Mesias.

Para nabi tidak hidup pada zaman yang sama. Dalam kaca mata pembelajaran Kitab Suci Katolik ada dua tipe penggolongan para nabi, berdasarkan zaman dan berdasarkan kitabnya. Berdasarkan zaman para nabi digolongkan dalam para nabi sebelum pembuangan, pada masa pembuangan, dan sesudah pembuangan. Dalam penggolongan kedua kita menemukan ungkapan nabi kecil dan besar. Penggolongan besar dan kecil bukan merujuk pada peting dan tidaknya tetapi pada panjang atau pendek kitab dari nabi yang bersangkutan. Yang tergolong nabi-nabi besar ialah Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Daniel. Sedang yang dimasukan dalam sebutan nabi kecil adalah Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi (karena jumlahnya dua belas maka kadang juga disebut keduabelas nabi).

Mungkin ada yang bertanya apakah para nabi langsung menulis kitabnya masing-masing? Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kitab-kitab yang ada dalam Kitab Suci kita diawali dengan tradisi lisan. Dari tradisi lisan kemudian para penulis suci yang diilhami oleh Roh Kudus menuliskan Kitab Suci. Dari sini, maka kita mendapat jawaban bahwa kitab-kitab para nabi sangat mungkin tidak langsung ditulis oleh nabi yang bersangkutan.

Dalam tradisi Kristiani, berbeda dengan urutan dalam Kitab Suci Ibrani. Dalam urutan buku-buku Perjanjian Lama, Kitab Para Nabi diletakkan pada bagian akhir. Alasannya karena para nabi menjadi perantara kedua perjanjian (Perjanjian Lama dan Baru). Apa yang diwartakan oleh para nabi tergenapi dalam Perjanjian Baru. Mesias yang dijanjikan oleh para nabi tergenapi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan kita. Kristus menjadi kehadiran Allah. Ia adalah Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14). Terkait sejarah peran para nabi sebagai jubir Allah penulis Surat kepada Orang Ibrani mengawali suratnya dengan pernyataan, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada” (Ibr 1:1-2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *